Nama beliau Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib. Orang-orang sekitar beliau kerap memanggil dengan sebutan Abu Ja’far dan generasi setelahnya menyebutnya dengan Imam Ath-Thabari.

Kata Ath-Thabari berkaitan dengan tempat kelahiran beliau yang bernama Thabaristan, saat ini masuk dalam wilayah negara Iran. Kehadiran Islam di daerah ini terjadi pada tahun 22 H melalui sebuah perjanjian damai pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab melalui panglimanya, Suwaid bin Muqarrin al-Muzani. Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah pasukan Islam berhasil menaklukkan kota al-Ray yang kini bernama Teheran.

Ulama yang lahir pada tahun 225 H ini adalah anak dari seorang pencinta ilmu yang hidup sederhana. Ayah Ath-Thabari sangat menginginkan anaknya menjadi seorang ulama yang bisa menjadi rujukan dan panutan. Walau harus berkerja keras seadanya, Jarir bin Yazid bersikeras membiayai Ath-Thabari untuk berkeliling ke beberapa negeri untuk mencari ilmu.

Keinginan ini memang bukan tanpa alasan. Karena sejak kecil, Ath-Thabari telah menunjukkan bakat-bakat itu. Di usia tujuh tahun, Ath-Thabari telah hafal Alquran. Pada usia delapan tahun, ulama kecil ini sudah terbiasa mengimami masyarakat sekitar dalam shalat-shalat berjamaah. Dan di usia sembilan tahun, Ath-Thabari sudah mulai fokus mempelajari hadits. Di usia yang masih belia itu, Ath-Thabari sudah mempelajari sekitar 100 ribu hadits.

Pada usia 12 tahun, ayah Ath-Thabari akhirnya merelakan putera kesayangannya untuk berkeliling negeri mencari ilmu. Dengan bekal uang yang pas-pasan, sejumlah negeri berhasil dikunjungi Ath-Thabari demi mencari ilmu dari para ulama yang kredibel di bidangnya. Negeri-negeri itu antara lain, Bagdad, Bashrah, Kufah, Damaskus, Beirut, dan Mesir.

Di setiap negeri yang disinggahi, Ath-Thabari mempunyai guru-guru besar dan menjadi rujukan pada bidang masing-masing di masa itu. Di Bagdad, Ath-Thabari belajar fiqih mazhab Syafi`i kepada al-Hasan al-Za`farani (w.259H) dan Abu Sa`id al-Ashthakhari (w.328), dan belajar ilmu qira’at kepada Ahmad bin Yusuf al-Taghlibi (w.277H), seorang ulama qira’at paling terkemuka di masanya. Di Bashrah, Ath-Thabari belajar hadits kepada Abu Abdullah al-Shan`ani (w.245H), guru hadits Imam Muslim, al-Tirmidzi, al-Nasa’i dan Ibn Majah, dan Abu al-Asy`ats (w.253H), guru hadits Imam al-Bukhari dan al-Nasa’i. Di Kufah, al-Thabari belajar ilmu puisi kepada Tsa`lab (w.291H), ulama Nahwu dan bahasa Arab paling terkemuka di Kufah. Di Beirut, al-Thabari belajar ilmu qira’at kepada al-Abbas ibn al-Walid al-`Adzri, ulama qira’at kenamaan sekaligus pengikut mazhab al-Auza`i. Sedangkan di Mesir, Ath-Thabari belajar fiqih langsung kepada kolega Imam al-Syafi`i, yaitu al-Muzani (w.268H) dan belajar fiqih Maliki kepada Ibnu Abd al-Hakam dan Yunus bin Abd al-A`la.

Tidak kurang sekitar empat puluh tahun, Ath-Thabari menghabiskan waktu untuk fokus mencari ilmu di beberapa negeri dan dengan beberapa ulama terkemuka itu. Selama itu pula, Ath-Thabari hidup dalam kesederhanaan. Dan dari keseriusannya dalam mencari ilmu, Ath-Thabari menguasai begitu banyak spesialisasi keilmuan. Mulai dari tafsir Alquran, Hadits, bahasa, sastera, psikologi, bahkan ilmu kedokteran.

Sejak itu, Ath-Thabari mulai hidup menetap di sebuah daerah di Bagdad. Dan waktunya ia curahkan untuk mengajar dan menulis sejumlah karya besar yang hingga kini masih menjadi rujukan umat.

Salah satu sifat beliau yang sangat dikagumi orang-orang sekitarnya adalah zuhudnya dengan kehidupan dunia. Ath-Thabari tidak mau menerima hadiah dari siapa pun, kecuali ia mampu membalas si pemberi hadiah tersebut dengan yang senilai atau lebih.

Suatu kali, karena sebuah karya beliau yang begitu bagus, seseorang menghadiahkan Ath-Thabari uang sebesar 3000 dinar atau setara dengan 4 milyar rupiah. Dengan sopan, hadiah itu ditolak Ath-Thabari. ”Aku tidak bisa membalas hadiah sebesar itu dengan yang lebih baik,” ucap Ath-Thabari.

Mendapati jawaban itu, sang pemberi pun menegaskan bahwa hadiah itu bukan untuk mendapatkan balasan dari Ath-Thabari. Tapi, karena ingin mendekatkan diri kepada Allah. Tetap saja, Ath-Thabari menolak pemberian itu.

Ath-Thabari pernah memesan tikar untuk rumahnya yang kecil. Seorang tukang tikar pun mengukur dan memasang tikar pesanan Ath-Thabari. Setelah selesai, Ath-Thabari langsung membayar dengan uang sebesar empat dinar atau sekitar lima juta rupiah. Tukang tikar langsung kaget dan menolak uang itu. Tapi, Ath-Thabari mengatakan kalau ia tidak bisa menerima hadiah tikar itu kalau si tukang tikar tidak mau menerima hadiahnya.

Seorang menteri pernah meminta Ath-Thabari untuk menuliskan sebuah ringkasan kitab fikih yang bisa memudahkannya untuk mempelajari dan mengamalkan ibadah. Setelah selesai ditulis, sang menteri menghadiahkan Ath-Thabari uang sebesar 1000 dinar atau senilai 1,4 milyar rupiah. Dan, uang itu pun ditolak Ath-Thabari.

”Tidakkah engkau bisa gunakan uang itu untuk bersedekah?” tulis sang menteri dalam surat khususnya kepada Ath-Thabari. Tapi, tetap saja, uang itu ia tolak.

Seorang perdana menteri saat itu, sedemikian terkagumnya dengan keilmuan Imam Ath-Thabari, menyatakan diri untuk bertaklid dengan beliau. Ia menawarkan Ath-Thabari jabatan semacam hakim agung di wilayah kekuasaannya. Tapi, tawaran itu langsung ditolak Ath-Thabari.

Penolakan itu sangat disesalkan orang-orang terdekat Ath-Thabari. Mereka berdalih, ”Kalau saja kamu menerima jabatan itu, kamu bukan sekadar mendapatkan gaji besar. Tapi juga bisa menghidupkan pengajian sunnah yang biasa kamu lakukan!”

Mendapati ucapan itu, Imam Ath-Thabari menjawab, ”Sungguh, aku mengira kalian akan mencegahku ketika aku senang dengan jabatan itu!”

Allah swt. memanggil ulama terkemuka nan zuhud ini di usia 85 tahun. Imam Ath-Thabari meninggal pada tanggal 26 Ramadhan tahun 310 H di Bagdad. Sepanjang usianya, Imam Ath-Thabari menghabiskan umurnya untuk belajar dan mengajarkannya kepada umat. Sejarah mencatat karena kesibukannya dengan ilmu itu, beliau tidak sempat untuk berkeluarga.

Salah satu ucapan yang begitu berkesan dari Imam Ath-Thabari adalah hindari kekayaan yang membuat diri menjadi sombong. Dan hindari kemiskinan yang membuat diri menjadi suka meminta.

Kalimat itu bisa ditangkap sebuah puisi yang ia tulis.

Ketika aku kesulitan uang
Tidak satupun sahabatku yang tahu
Tapi ketika aku punya uang
Sahabatku ikut merasakan kesenanganku
Rasa malu menjaga air mukaku
Rasa enggan meminta adalah sifatku
Andai saja aku tepis rasa malu
Jalan menjadi kaya terlalu mudah bagiku

Sumber:
-http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/
-Mnh/Min A’lam As-Salaf, Syaikh Ahmad Farid

Komentar ditutup.