Pada tanggal 18 April 2011 secara serentak dilaknakan Ujian Nasional serentak di seluruh Tanah Air, kendatipun banyak protes tentang pelaksanaan UN ini namun pemerintah tetap melaksanakan UN dengan pembenahan dari beberpa kelemahan-kelemahan yang terjadi pada tahun sebelumnya. Pelaksanaan UN selalu menjadi momok bagi penyelenggara Pendidikan diseluruh tanah air. Dan yang paling menonjol tahun ini adalah pelaksanaan UN di tiga propinsi yang berbeda dari propinsi lainya, yang mana ketiga propinsi ini yang nota benenya meraih peringkat teratas perolehan UN tahun lalu, mengalahkan sekolah-sekolah favorit lainya di jawa maupun darah lainya. Konon pada UN 2011 ini di tiga propinsi ini diberikan soal dengan lima kode soal secara acak, tidak seperti sebelumnya hanya ada dua paket soal. Apakah dengan cara seperti ini pemerintah mau membuktikan validitas, realibilitas perolehan yang beberapa tahun akhir ini yang melompat secara dramatis secara nasional, kalau itu yang terjadi berarti ada yang tidak beres pada peleksanaan UN sebelumnya pada daerah tersebut, mudah-mudahan ini hanya asumsi belaka.

Sebenarnya kalaulah mau jujur, ketidak beresan pelaksanaan (baca: kecurangan) UN tidaklah seluruhnya dari pihak sekolah, akan tetapi sangat banyak pihak-pihak yang berkentingan terlibat didalamnya. Dari segi institusi penyelenggara pendidikan, segala bentuk kebijakan perbaikan pendidikan yang dirancang pemerintah pusat tidak mampu dipahami dan dijabarkan dengan baik oleh pemerintah daerah, karena masing-masing pemerintah daerah mematok target bagi setiap sekolah di daerahnya untuk mencapai target presentase kelulusan, tampa memperhatikan bagaimana kiat pembelajaran, apa yang perlu dibenahi oleh sekolah agar sistem pendidikan nasional itu dapat dijabarkan dan diselenggarakan dengan baik sehingga ada suatu pencapaian standar kelulusan. Namun yang terjadi (mungkin) masing petinggi didaerah tidak berpikir rasional, tetapi justru berpikir untuk dirinya. Jika kelulusan di propinsi nya, dikabupatenya, atau dikecamatan nya tidak bisa mencapai target sekian persen mereka merasa takut kalau-kalau nanti dimutasi atau dicopot dari jabatanya, sehingga terjadilah apa yang terjadi. Dinas pendidikan Propinsi memberikan pressure pada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Kabupaten/kota menekan kepala sekolah, seterusnya sang kepala sekolahpun berusaha dengan segala cara agar target atasan bisa tercapai tampa ada yang mampu menolak. Selain itu disinyalir Lembaga-lembaga Bimbingan Belajar juga sangat berperan juga dalam ketidak beresan ini, demi mempertahankan reputasi bahkan kelangsungan Lembaga mereka, mereka berusaha membantu siswa yang mereka bimbing dapat lulus dengan nilai tinggi dengan cara berusaha mengedarkan kunci jawaban pada siswa dibawah bimbinganya saat ujian bahkan sebelum hari H pelaksanaan UN.

Praktik-praktik semacam ini telah menghilang sebuah nilai idelisme seorang guru, para umar bakri inilah yang menjadi korban akibat dilema dari satu sisi ingin siswanya lulus dari sisi lain juga tekanan dan beban dari atasan, terutama guru yang mengajar mata pelajaran UN. Hilangnya idelisme pendidik akan menghancurkan generasi yang akan datang, coba pikirkan siswa lulus dengan nilai yang cukup tinggi hampir rata-rata 8,0 s/d 9,0 namun tidak berdaya untuk masuk ke PTN, ini membuktikan bahwa kecurangan yang kita buat sebenarnya tidaklah membantu tingkat keberhasilan apatahlagi kecerdasan siswa.

Sepertinya Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional bersama BNSP telah memehami persoalan seperti ini, sehingga dibuat suatu bentuk ujian UN yang dapat meminimalisir tejadinya kecurangan yang salah satunya adalah dengan memberikan kode soal yang brbeda tiap siswa, yang kabarnya terdiri dari lima kode soal yang diberikan pada siswa secara acak. Sehingga jika siswa A dapat kode soal 001 (sebagai contoh saja) pada ujian pertama, maka pada ujian kedua mereka mungkin dapat kode soal 003, artinya siswa akan mendapat kode soal yang berbeda secara acak setiap mata ujian. Metode ini cukup efiseien juga untuk mengurangi keterlibatan guru untuk memberikan jawaban (kalau seandainya guru dapat soal) karena yang pertama guru sudah cukup kesulitan menemukan informasi kode soal yang ada pada siswa, salah kode soal yang dikirimi dengan kode soal yang ada pada siswa bisa jadi neraka bagi siswa tersebut, yang kedua minimal memperlambat waktu untuk memberikan bantuan pada siswanya. Namun demikian sebagus apapun sitem yang dibuat, maka semakin pintar pula orang untuk mencuranginy.

Adapun dampak yang nyata, dari tindakan kecurangan yang berlangsung sejak lama tersebut adalah:

  1. Tingginya tingkat stress bagi para guru dalam proses belajar mengajar dikelas
  2. Adanya konflik batin bagi sang guru didalam mengemban tugas sebagai pendidik, antara menegakkan idealisme atau mengikuti keinginan dari beberapa pihak yang secara tidak langsung melakukan pressure untuk melakukan tindak kecurangan terutama Pada saat UN.
  3. Kurangnya Motivasi bahkan nyaris tidak ada sama sekali motifasi siswa untuk belajar dengan baik, tekun dan serius.
  4. Adanya asumsi yang salah tertanam dalam benak siswa (sudah permanen), bahwa mereka akan lulus juga dan dibantu gurunya saat US/UN.
  5. Bahkan siswa ada yang memberikan semacam propaganda pada teman-temannya; untuk apa mati-maatian belajar toh kalau banyak yang tak lulus yang pusing kan kepala sekolah bukan kita.

Sudah begitu bobrokkah pendidikan Indonesia? Kita berharap dengan sistem baru ini ada perbaikan yang nyata bagi pendidikan di tanah air tercinta ini, karena pendidikan adalah marwah Bangsa, dengan pendidikan yang baik dan berkualitaslah SDM bangsa kita dapat diciptakan. Yakinlah bahwa bangsa yang besar ini punya kecerdasan yang tinggi dengan catatan jangan kotori dengan segala bentuk kecurangan. Wahai generasi bangsa mari bangkit, satu visi untuk menjadikan bangsa ini berkualitas dan bermartabat.

Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah yang tepat untuk mengganti sistem UN manual dengan menggunakan sistem elektronik, yaitu ujian UN dilaksanakan secara ONLINE, kira ini sangat tepat untuk menepis bentuk-bentuk kecurangan yang ada pada sistem manual. Tentu saja hal ini punya kensekwensi pada pendanaan, karena ini membutuhkan suatu infra struktur IT yang sangat mahal, serta butuh SDM yang handal dan terpercaya. Untuk suatu perubahan memang kita perlu pengorbanan, namun dibalik pengorbanan besar itu pulalah menanti suatu hasil yang besar dimasa yang akan datang. Apa yang kita bangun hari ini bukanlah untuk dapat dinikmati hari ini juga, tapi akan dinikmati generasi kita yang akan datang.

Komentar ditutup.