Pelaksanaan UN (Ujian Nasional) untuk tingkat SMA/MA, SMK, dan SMAK yang dimulai hari senin tanggal 16 April ini diharapkan lebih baik dari tahun yang lalu, ada perubahan yang signifikan pelaksanaan tahun ini dibanding tahun yang lalu mulai dari Penggandaan Soal yang sudah dikondisikan dengan baik, kalau tahun lalu penggandaan dilakukan pada provinsi masing-masing, pemaketan soal dan distribusi yang lebih baik.

Paket soal sudah dikemas dalam amplop sebanyak 20 eksamplar yang terdiri dari 5 paket soal, yaitu paket A, B, C, D, dan E. didalam amplop soal juga disediakan denah paket yang disesuaikan dengan jumlah peserta ujian sehingga tidak ada siswa yang dapat paket berdekatan. Lay out paket seperti:

Depan

     

A

B

C

D

D

E

A

B

B

C

D

E

E

A

B

C

C

D

E

A

     

Belakang

Disain layout ini sangat ideal untuk menghindari siswa saling contek, karena posisi siswa yang memiliki paket yang sama sangat jauh. Dalam ruangan yang terdiri dari 20 orang siswa, hanya empat siswa yang memiliki paket yang sama, salain itu dari segi kelengkapan administrasi pengawas dan siswa terdiri dari lembaran absensi siswa yang sudah dilengkapi kolom yang sesuai dengan nomor peserta, lebih hemat kertas karena absen disatukan dengan berita acara timbal balik rangkap tiga dan tidak ada lagi rekapitulasi UN seperti tahun lalu, sehingga pengawas agak sedikit ringan tugasnya.

Untuk kerahasiaan dokumen ujian sampul disegel dengan sticker tidak seperti tahun lalu dengan menggunakan lak, sehingga sulit untuk penitia ujian berbuat curang.

Apakah UN tahun ini sudah bebas dari kecurangan? Idealnya tidak ada lagi kecurangan, usaha pemerintah untuk menjadikan UN berkualitas dan jujur sudah cukup baik, apalagi ditambah adanya fakta integritas yang mesti di tanda tangani oleh pengawas UN.

Jika ditelaah dan direnungi fakta integritas ini sebenarnya menguji dan mempertanyakan komitmen pengawas, karena ini merupakan pertaruhan morallitas seorang pengawas yang juga merupakan seorang pendidik. Mampukah seorang pengawas UN itu berkaku jujur dan tidak memberikan peluang kepada siswa untuk bekerjasama atau dalam bentuk apapun yang berindikasi pada ketidak jujuran dalam UN, jika pengawas tidak mampu melakukan fakta integritas yang ia tanda tangani, jangan berharap UN akan jujur dan berkualitas.

Fakta dilapangan kadang kala tidaklah seperti dalam teori, sebab tergantung pada niat masing-masing, kalau siswa sebenarnya tidak bisa berbuat curang karena tidak ada celah bagi mereka, tapi yang berbuat curang itu justru datang dari penitia penyelenggara, bisa saja ada kompromi antara panitia dengan pengawas, misalnya siswa diperlonggar untuk bisa menggunakan alat komunikasi seperti Handphone (HP) sehingga masih ada sms yang bisa dilakukan oleh panitiakah, gurukah, sementara pengawas pura-pura tidak tahu, siswa duduk mengerjakan ujian dengan tenang seolah-olah tidak ada kejadian, tim pemantau dari perguruan tinggi cukup duduk dengan tenang. Jadi siapa sebenarnya yang curang? Siswa atau penyelenggara sekolah?kalau siswa curang masih bisa dimaklumi, tapi kalau panitia/guru yang berbuat curang? Apa kata dunia, maka wajar orang mengatakan saat ini GURU tidak lagi dapat dipercaya, hilanglah sudah idealisme,”INGARSO SANG TULODO, INGMADIO MANGUN KARSO“, tinggal lagi sebagai pepatah yang tidak lagi melekat pada filsafat pendidikan, GURU sebagai yang ditiru dan di Gugu hanya tinggal kenangan, maka hilanglah moral sang GURU, menghasilkan siswa/murid yang jauh dari orang yang terpelajar dan beraklak mulia, jika ini terus berlangsung dari tahun ketahun maka tunggulah saat kehancuran dari bangsa ini.

Komentar ditutup.