Pendahuluan

E-learniang atau elektornik learning adalah pembelajaran yang dilaksanakan dengan memanfaatkan fungsi internet dalam kegiatan pembelajaran dengan menjadikan fasilitas elektronik sebagai media pembelajaran. Jaya Kumar C. Koran (2002) mendefinisikan e-learning sebagai pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) kususnya Internet :

  • Internet merupakan salah satu instrumen dalam era global telah menjadikan dunia ini menjadi lebih transparan, terhubung dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan dan kebangsaan.
  • Dalam kurun waktu yang amat cepat, beberapa dasawarsa terakhir ini telah terjadi revolusi internet di berbagai negara termasuk Indonesia, serta peng- gunaannya di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.
  • Menyadari peran internet sangat strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan termasuk didalamnya adalah mutu pembelajaran, maka pemerintah Indonesia dalam hal ini Depdiknas telah mengupayakan aplikasi / sarana / media pembelajaran berbasis internet seperti contoh : (1) E-book; (2) E-learning;(3) E-laboratory; (4) E-magazine (E-zine); (5) TV Edukasi (TVE); (6) Jardiknas; (7) ICT Center; dll. yang sewaktu-waktu dapat diakses dan dimanfaatkan oleh guru dan siswa untuk mendukung proses pembelajaran yang bermutu.
  • Untuk menunjang pembelajaran bermutu berbasis internet agar dapat terwujud dengan baik maka siswa dan guru perlu pembuatan dan pemanfatan aplikasi Blogsite, E-mail dan kegiatan Browsing Internet.

     

Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran di Sekolah.

TIK telah mengubah model pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional, yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa, baik di kelas maupun diluar kelas. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.

Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya.

Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran ada 3 (tiga) persyaratan yang harus dipenuhi yaitu :

  • Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas dan sekolah, sehingga siswa dan guru dapat memanfaatkan akses internet untuk mendukung proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
  • Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, sehingga siswa dan guru dapat berkolaborasi secara baik dalam proses pembelajaran, dan kompetensi siswa dapat memenuhi tuntutan akademik. Sedangkan dukungan dukungan kultural bagi siswa dan guru sangat dibutuhkan, untuk menghilangkan pola pandang sebagian masyarakat (yang besifat tradisional), memandang internet dari sisi negatifnya, misal : (a). meng-akses internet hanya membuang-buang waktu dan boros (mahal); meng-akses internet akan merusak moral anak-anak karena penuh dengan situs porno. Pandangan semacam inilah yang harus dirubah agar masyarakat ” melek internet” sehingga dapat merubah pandangan tentang peran internet dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
  • Guru harus mempunyai kompetensi (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital / internet untuk membantu siswa mencapai standar akademik, sehingga peran guru sebagai fasilitator, navigator pengetahuan, mitra belajar siswa dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

     

Fungsi Pembelajaran Elektronik (e-learning)

Menurut Siahaan (2004), setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction) :

  • Suplemen (tambahan)

    Dikatakan berfungsi sebagai suplemen apabila peserta didik mempunyai

    kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik

    atau tidak. Dalam hal ini tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk

    mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta

    didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau

    wawasan

  • Komplemen (pelengkap)

    Dikatakan berfungsi sebagai komplemen apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pengayaan atau remedial. Dikatakan sebagai pengayaan (enrichment), apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/ memahami materi pelajaran yang disampaikan pada saat tatap muka diberi kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan terhadap materi pelajaran yang telah diterima di kelas. Dikatakan sebagai program remedial, apabila peserta didik  yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran pada saat tatap muka diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin mudah memahami materi pelajaran yang disajikan di kelas.

  • Substitusi (pengganti)

    Dikatakan sebagai substitusi apabila e-learning dilakukan sebagai pengganti kegiatan belajar, misalnya dengan menggunakan model-model kegiatan pembelajaran. Ada 3 (tiga) alternatif model yang dapat dipilih, yakni : (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

 

Penunjang Pembelajaran Berbasis Internet.

Di antara banyak fasilitas internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima

aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu email,

Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”. Sedangkan Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada

dalam e-learning. Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kedua, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan.

Agar proses pembelajaran berbasis internet dapat berhasil secara maksimal maka

perlu dukungan sarana penunjang diantaranya Browsing Internet, Blogsite, dan E-mail..

  1. Dengan kegiatan Browsing Internet siswa dapat menjelajah dunia maya, dapat mengakses kebutuhan yang diinginkan siswa semua tersedia, sehingga siswa dapat mengetahui informasi apapun, dimanapun dan kapanpun.
  2. Dengan membuat dan memanfaatkan Blosite siswa menuangkan ide, kreasi dan inovasinya dalam blogsite . Blogsite sebagai media tulisan, sehingga siswa dapat melakukan share (bertukar data) berbagai informasi yang dibutuhkan, termasuk informasi tentang sekolah. Blogsite selain berfungsi sebagai sharing informasi, juga dapat digunakan sebagai media penampung tugas-tugas siswa, dimana siswa dapat meng-upload tugas-tugasnya kedalam blogsite, maupun men-download E-book, E-laboratory, E-magazine, dll. sesuai kebutuhan.
  3. E-mail atau surat elelktronik fungsinya hampir sama layaknya surat yang kita tulis dan dikirim melalui Kanto Pos. Dengan hadirnya aplikasi E-mail pekerjaan kita jadi mudah, cukup hanya dengan Registrasi, kemudian kita menulis pesan, gambar, tugas, lagu, dll. bisa dalam kapasitas besar dan dengan biaya murah, lalu mengirim E-mail

Apabila 3 persyaratan yang harus dipenuhi dan ditunjang unsur penunjang pembelajaran berbasis internet dapat dimanfaatkan dengan baik, maka akan terjadi perubahan dalam pembelajaran dan adanya peningkatan proses pembelajaran serta hasil belajar yang ditandai:

  • Peran Guru dalam proses pembelajaran berubah :

Sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, sumber segala jawaban menjadi ” sebagai fasilitator pembelajaran, mitra belajar bagi siswa”.
Dari menggendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi ” lebih banyak memberikan alternatif dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses pembelajaran ”

  • Peran Siswa dalam pembelajaran juga berubah :

Dari penerima informasi yang pasif menjadi ” partisipan yang aktif “.
Dari mengungkap kembali pengetahuan menjadi ” penghasil berbagai pengetahuan “.
Dari pembelajaran aktifitas individual menjadi ” pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain “.

 

Kesimpulan

  1. Dengan dimanfaatkan TIK untuk pembelajaran berbasis internet akan terjadi pergeseran metoda pembelaajaran yang ditadai pergeseran peran guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang berdampak pada peningkatan hasil belajar.
  2. Kegiatan Browsing Internet, pembuatan dan pemanfaatan Blogsite dan E-mail sebagai penunjang kegiatan pembelajaran siswa sangat bermanfaat bagi peningkatan kompetensi siswa terutama dalam berekplorasi, berkreasi, menuangkan ide dan gagasan siswa melalui pembelajaran berbasis internet.
  3. Perlu adanya sosialisai kepada masyarakat atau orang tua murid manfaat penggunaan media internet untuk pembelajaran, guna menghilangkan pola pandang yang negatif terhadap penggunaan internet oleh siswa dan guru.

 

Referensi

Asep Herman Suyanto. 2005. http://www.asep-hs.web.ugm.ac.id

E Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

http://en.wikipedia.org/wiki/ E-learning.

Purbo, Onno W. 2003. E-Learning dan Pendidikan. Artikel Dalam Cakrawala Pendidikan Universitas Terbuka.

Siahaan, Sudirman. 2004. E-Learning (Pembelajaran Elektronik) Sebagai Salah Satu Alternatif Kegiatan Pembelajaran. Sumber dari internet.

 

 

Komentar ditutup.